September 10, 2019

Pergi untuk “Kembali”

 


Awal perjumpaan kala itu pada pertengahan tahun 2008, itu seingat saya. Saat di mana saya masih menempuh ilmu di salah satu perguruan tinggi di Semarang. Beliau merupakan salah seorang pengajar/ dosen di kampus dengan Program Studi Teknologi Pendidikan. Mengampu mata kuliah Media Pembelajaran, lagi-lagi ini seingat saya. Duh, ternyata ingatan saya sudah mulai memudar.

Selama mengampu perkuliahan nampak terasa perbedaan yang mencolok cara bagaiamana beliau mengajar di ruang kelas. Itu tidak hanya dirasakan oleh pribadi saya sendiri, namun hampir satu kelas merasakan hal yang sama. Berbeda dengan dosen-dosen yang lainnya. Mulai dari manajemen waktu saat mengajar, kedisiplinan hingga pada teknis strategi mengajar beliau sangat berbeda dengan dosen yang lainnya. Entah karena memang beliau masih terbilang muda atau karena karakter dan kepribadiannya yang demikian adanya. Kawan satu angkatan di kampus merasa sangat cocok saat mengikuti perkulihan beliau. Hampir tidak ada yang absen menghadiri kelasnya.

Hingga pada akhir semester perkuliahan selesai, komunikasi dengan beliau masih tetap terjalin. Bahkan beliau hapal semua nama-nama mahasiswa satu kelas hingga pada karakter, kepribadian, kompetensi dan kecenderungan masing-masing mahasiswanya. Perkuliahan selesai dan perjumpaan berikutnya dengan beliau kala itu entah kapan akan terjadi.

Menginjak pada semester 6 atau 7 saya ada program PPL di BPM (Balai Pengembangan Mulitmedia). Tuhan menuntun saya kembali untuk berinteraksi dengan beliau bahkan membimbing saya selama berproses di kantor yang bernaung di Kemendikbud itu. PPL berlangsung selama 3 bulan dan selesai dengan menghasilkan produk-produk media pembelajaran. Akhirnya perjumpaan saya dengan beliau pun harus selesai juga. Entah kapan akan berjumpa kembali.

Setelah program PPL selesai akhirnya saya lulus dari kampus tersebut dan saya menjalani kehidupan yang sesungguhnya. Kenapa? Karena kehidupan pasca kuliah merupakan titik awal untuk berproses dan berjuang menapaki kehidupan yang lebih realistis. Tahun 2009 wisuda dan harus segera mencari gawean. Maaf agak ngelantur saya. Kembali ke inti ya gaess…

Selama 2008 dan 2009 saya masih berinteraksi dengan beliau dalam rangka ngamen bareng. Masa ini sangat berharga bagi saya. Beliau mengajarkan banyak hal, pengalaman baru, ilmu baru dan pemahaman baru yang sama sekali belum saya dapatkan. Dalam kurun waktu ngamen bareng itu perjumpaan terjadi lagi, Tuhan memang Maha Misteri. Saya selalu dipertemukan dengan beliau meski dalam waktu dan kesempatan yang berbeda. Hingga akhirnya program ngamen bareng itu selesai, kamipun sudah jarang bertemu. Entah kapan lagi persuaan itu akan terjadi kembali.

Selama dua tahun, yakni kisaran tahun 2010 – 2011 saya mencoba mencari peruntungan sendiri. Mencari jalan sendiri dengan daya juang dan energi mandiri. Menempuh perjuangan yang jauh berbeda dengan disiplin keilmuan yang selama ini digeluti. Hingga akhirnya saya terdampar di Yogyakarta tepatnya di UGM. Ngapain di sana? Sudah saya utarakan tadi, menempuh jalan hidup yang baru. Tidak perlu diceritakan lebih detail di sini. Kapan-kapan kita ngobrol bareng, kalo mau πŸ˜„. Intinya selama dua tahun itu saya masih nganggur πŸ˜‚.

Tiba saat di mana masuk di pertengahan tahun 2012, tiba-tiba ponsel saya bordering. Tertera nama baliau di layar ponsel saya. Wah, ada apa ini setelah sekian lama tak bertemu ujug-ujug/ tetiba beliau menghubungi saya. Singkat cerita saya dikontak untuk datang ke kantor BPM. Sesuai permintaan beliau, saya mengajak teman satu kelas waktu kuliah dulu.

Lagi-lagi saya dipertemukan kembali dengan beliau. Ya ampun, Tuhan kembali menuntun saya bertemu dengan beliau. Nah, pertemuan kali ini merupakan awal di mana saya akan berinteraksi, bergaul, bersosialisasi hingga bercengekerama dengan beliau dalam kurun waktu yang lama.

Bunyi dering ponsel tersebut merupakan panggilan saya untuk bergabung di kantor BPM. Itu artinya saya bekerja di kantor tersebut. Yang lebih mengejutkan lagi selama 6 bulan saya masih dalam masa training di kantor BPM, akhirnya di tahun 2013 saya resmi menjadi bagian dari beliau. Maksudnya, saya berada di bawah koordinasi beliau. Berada dalam satu ruangan dengan  beliau. Ternyata beliau merupakan salah satu pejabat eselon di BPM, yaitu Kepala Seksi Pengkajian dan Perancangan yang saat itu seksi ini lebih sering disebut JIRAN.

Tak pernah tersebit sedikitpun dalam benak saya bergabung di BPM dan ternyata saya satu ruangan dengan beliau. Pertemuan kembali saya dengan beliau merupakan anugerah yang luar biasa. Di mana saya banyak belajar dengan beliau. Tahun demi tahun saya belajar tentang bagaimana bertemu dengan banyak orang, bagaimana bekerjsama dengan tim, bekerja sebagai individu, melakukan pekerjaan kantor dengan sungguh-sungguh.

Saat saya masuk kantor tersebut masih bernama BPM, berubah menjadi BPMP hingga sekarang menjadi BPMPK. Beberapa bulan lalu saya sempat diajak berbincang dan beliau melontarkan pertanyaan demikian, “Seandainya saya dipindah ke Pusat, menurutmu sosok yang layak dan pantas menggantikan posisi saya kira-kira siapa?. Di BPMPK ini ada 2 nama kandidat yang kuat, siapa dua diantara itu yang paling cocok?” Waduh kan repot ya saya dikasih pertanyaan begitu. Saya tetap didesak untuk menjawabnya, begini jawaban saya “Ijinkan saya untuk jujur mengutarakan jawaban. Saya mending memilih sosok dari luar BPMPK sekalian saja Pak.” Itu jawaban saya, tanpa perlu saya jelaskan alasannya di sini. Kapan-kapan boleh diskusi mengapa jawaban & alasan saya seperti itu πŸ˜„.

Saya bekerja dengan beliau dari 2012 hingga 2019 berapa tahun tuh? Cukup lama kan ya? Hingga pada akhirnya pada hari Jum’at Wage tanggal 6 September 2019 beliau dilantik dengan posisi dan jabatan yang baru. Kenapa pas Jum’at Wage? Kapan-kapan kita nongkrong bareng untuk bahas hal itu πŸ˜„. Kini beliau sudah ditarik ke Pusat berada di tempat yang baru yaitu PUSTEKKOM, tempat yang sebenarnya bukan asing lagi bagi beliau.



Beliau sosok yang sangat ngemong anak buahnya. Menyayangi semua pegawai BPMPK baik dari yang paling bawah hingga atas. Beliau sosok yang senantiasa memberikan teladan baik. Memiliki pengaruh yang cukup kuat. Tak pernah segan untuk mendengarkan bahkan menerima masukan dan kritikan dari siapapun. Tidak pernah gengsi dan malu melakukan pekerjaan yang menurut kebanyakan orang itu pekerjaan remeh. Membangun komunikasi yang baik dengan siapapun. Bahkan beliau membangun situasi seperti itu hingga menjadi suasana kekeluargaan. Tak pernah sungkan bergaul dengan siapapun. Tak pernah merasa beliau itu pejabat. Rendah hati, egaliter dan memiliki hubungan horizontal yang apik.

Sosok seperti beliau belum pernah saya temui sebelumnya. Memiliki kemampuan managerial yang baik, tipe pemimpin yang bisa menjalankan struktur organisasi dengan bagus. Siapapun yang pernah berinteraksi dengan beliau pasti merasakan kehangatan yang berbeda. Orang-orang yang berada di lingkaran beliau pasti memiliki pendapat yang sama dengan saya. Terlepas dari semua kelebihan dan kekurangan masing-masing orang.

Bagi saya beliau itu tidak hanya sebatas atasan atau rekan kerja di kantor. Beliau itu merupakan mentor, teladan, panutan bahkan sudah saya anggap sebagai orang tua meskipun belum tua-tua amat. Eh..maaf Pak πŸ™πŸ˜….

Selamat bertugas Bapak Agus Triaso. Semoga Tuhan Memberkati. Senantiasa dimudahkan segala urusan-urusannya. Sementara saya masih tetap saja meyakini akan ada pertemuan, perjumpaan dan persuaan lainnya. Entah kapan itu akan terjadi saya tidak tahu. Namun saya sedang bernegosiasi dengan Tuhan dan rembugan dengan para staff-Nya. Sssstttt…jangan serius-serius amat gaesss… Santaaaai… Negosiasi dan rembugan macam apa yang saya utarakan, cukup Tuhan dan saya yang tahu. Bahkan mungkin Anda akan melakukan hal yang sama dengan saya.

Pergi untuk ‘Kembali’. Sesuai judul tulisan ini, kalimat tersebut merupakan sebuah doa dan harapan bagi orang-orang yang pernah dekat dengan beliau. Jika Anda cermati, tulisan ini ada 4 kalimat yang saya cetak tebal (bold) sebagai bentuk rasa kagum dan syukur saya kepada Tuhan Yang Maha Mempertemukan. Ga percaya kalo kalimat itu dicetak tebal? Coba tengok lagi kalimat tersebut di atas. Bukan apa-apa gaesss, itu hanya cara bagaimana saya membaca romantisme Tuhan kepada hamba-Nya akan sebuah kejadian, ketetapan dan takdir yang saya terima.

Tulisan ini dibuat sebagai pengantar beliau yang kini dipindahtugaskan di tempat yang lebih baik dari sekarang. Hingga tulisan ini diturunkan banyak pegawai yang masih belum bisa move on dari sosok beliau. Banyak pegawai lain bahkan yang satu ruangan sekalipun merasa terkejut dengan pindahnya beliau dari BPMPK. Sekali lagi SELAMAT Pak πŸ‘πŸ‘πŸ‘.

Do the best, My Boss!

Bentar Saputro
Semarang, 10 September 2019

    Choose :
  • OR
  • To comment
No comments:
Write comments

Silahkan tinggalkan komentar Anda di sini