July 4, 2017

All You Can Eat

 

Sumber Gambar : https://inform.tmforum.org

Sebentar lagi Ramadhan akan segera berlalu. Esok hari akan menyambut datangnya hari raya. Kebanyakan dari kita sangat bersemangat untuk menyambut datangnya hari yang Fitri itu. Setelah hampir sebulan penuh melaksanakan kewajiban berpuasa.


Sebagian merasa berat meninggalkan bulan yang penuh berkah ini. Sementara yang lain dengan suka cita bahkan sudah tak sabar lagi untuk segera berlalu melewati bulan puasa. Bagi yang merasa berat meninggalkan, biasanya sedih karena belum tentu di tahun berikunya bisa bertemu dengan Ramadhan tahun depan. Sedangkan yang bergembira menyambut hari raya sudah tak sabar untuk melewati hari-hari yang meletihkan di siang hari.

Bulan Puasa memang akan segera berlalu dan kita berharap dapat menjalankan dengan baik serta aktifitas peribadatan kita diterima oleh-Nya. Jika kita melihat berbagai kegiatan manusia saat bulan Ramadhan, banyak sekali event yang bertemakan kumpul-kumpul. Sebut saja acara Bukber atau lebih sering kita sebut Buka Bersama.

Hampir semua warung makan dan restoran serta tempat-tempat kuliner lainnya saat menjelang waktu berbuka ‘full book’. Semua dibanjiri manusia-manusia yang hendak membatalkan puasa setelah seharian menahan diri untuk tak makan dan minum.

Tidak hanya warung makan, restoran atau tempat kuliner. Hotel-hotel juga tak mau ketinggalan untuk meramaikan suasana bulan Ramadhan. Salah satu yang ditawarkan dari hotel adalah dengan menawarkan berbagai macam paket beerbuka puasa. Ada banyak pilihan dari hotel bintang tiga, empat sampai lima. Pokoknya dari hotel yang biasa, menengah hingga hotel mewah.

Paket yang paling populer yang ditawarkan oleh pihak hotel adalah All You Can Eat. Ya. Sesuai nama paketnya, semua bisa makan. Atau lebih tepatnya bisa makan semua makanan yang tersedia. Biasanya restoran di hotel menyajikan berbagai macam pilihan menu makanan. Mulai dari makanan pembuka (appetizer) hingga makanan penutup (desert).

Beberapa waktu lalu saya ada kegiatan di salah satu hotel. Saat menjelang waktu berbuka puasa, semua penghuni hotel berbondong-bondong ke arah tempat makan. Berbagai macam jenis masakan sudah disajikan oleh para koki hotel.

Saat berbuka memang dianjurkan untuk segera membatalkan puasa. Saya menyaksikan kebanyakan dari mereka dengan lahapnya menyantap makanan yang ada. Sudah ambil salah satu menu makanan, segera beralih untuk ambil menu makanan berikutnya.

Yang saya kagum dari mereka adalah saat mengambil setiap menu makanan, tidak tanggung-tanggung porsinya luar biasa banyak. Misalkan saja menggunakan piring. Maka akan terlihat piring tersebut layaknya tumpukan makanan yang menggunung.

Dari situ saya banyak mengamati karakter dan perilaku mereka saat waktu berbuka. Bahwa hakekat puasa lebih dicenderungi hanya sebatas makan dan minum saja. Maka tatkala saat di mana sudah diperbolehkan untuk berbuka, hampir semua mengerjakan apa-apa yang di siang hari tidak diperbolehkan.

Teringat pesan Mbah Nun, perutmu hanya bisa menampung tak lebih dari satu piring saja. Apabila sudah makan dalam rentang waktu satu jam kemudian perutmu baru merasa kenyang.

Benar saja ketika saya melihat situasi berbuka puasa di hotel, orang-orang dengan lahapnya memakan semua makanan yang tersedia. Pindah dari satu jenis makanan menuju makanan lainnya. Namun, perut mereka tidak sebesar keinginan dan nafsu yang menggebu. Ini terbukti dengan banyaknya sisa makanan yang tidak habis dimakan di meja-meja makan. Terbuang sia-sia.

Saat kita dihadapkan pada berbagai macam pilihan makanan, nafsu kita mendadak memuncak untuk tak sabar melahap sajian yang ada. Apakah nilai puasa hanya terletak pada larangan untuk tak makan dan minum? Mungkinkah kita untuk menahan diri tak melakukan hal-hal yang kita sukai?

Apakah dengan adanya paket “All You Can Eat” lantas kita benar-benar memanfaatkannya untuk memakan semua sajian yang ada? Tidakkah kita berpikir bahwa daya tampug perut kita ini terbatas?

Mbah Nun berulangkali menyampaikan, esesnsi puasa tidak hanya terletak pada aturan formal untuk tidak makan dan minum. Saat datang waktu berbuka puasa, sejatinya esesni puasa tidak kemudian berhenti begitu saja. Dengan tidak mengambil keputusan untuk tidak memakan makanan yang kita sukai saja sudah merupakan puasa. Memilih untuk tidak memakan semua jenis makanan yang disajikan juga merupakan puasa.

Berhenti makan sebelum kenyang dan makanlah hanya dikala lapar. Bukankah itu sikap yang sudah dicontohkan oleh Kanjeng Nabi dan dianjurkan untuk kita teladani bersama?

Puasa yang selama ini kita kerjakan lebih kepada melakukan aturan legal formalnya saja. Setelah pada waktu tertentu, yang kita selenggarakan lebih kepada ‘melampiaskan’ dan efek ‘balas dendam’. Sungguh kita benar-benar lupa akan batas-batas. Kapan kita terus dan kapan kita berhenti. Dalam hal apapun, dalam peristiwa apapun. Kita lupa akan batasan.

Semoga di hari yang Fitri nanti, kita masih memiliki hakekat, nilai dan esensi puasa yang sesungguhnya. Kecuali kita memilih untuk menerabas batas, melangsungkan pelampiasan dan berhenti puasa saat Ramadhan telah berlalu.

Blora, 29 Ramadhan 1438 | 24 Juni 2017

    Choose :
  • OR
  • To comment
No comments:
Write comments

Silahkan tinggalkan komentar Anda di sini