January 23, 2017

Musibah atau Anugerah?

 



Melanjutkan tulisan yang sebelumnya (Mau-Ku BUKAN Mau-mu). Benar memang bahwa setiap kemauan kita tidak akan pernah tercapai apabila Tuhan tidak pernah kita libatkan di dalamnya. Sekalipun demikian, semuanya itu yang berlaku mutlak HANYA kemauan-Nya.

Mendapati bahwa apa yang tidak kita inginkan justru terjadi sama kita, memang bukan hal yang disangka-sangka. Kita sudah sangat berhati-hati dan waspada setiap langkah dan tindakan. Boleh dikatakan kejadian kemarin merupakan musibah atau anugerah.

Saya katakan musibah karena istri saya kemarin mengalami kecelakaan pada saat perjalanan menuju tempat kerjanya. Meskipun kecelakaan itu bisa dikatakan kecelakaan tunggal, namun kejadian itu membuat istri harus mengalami beberapa luka lebam di sana-sini bahkan jatuh terjerembab sehingga giginya pun sampai patah.

Setelah istri saya dibawa ke rumah sakit dan mendapat penanganan dari rumah sakit, akhirnya hari itu istri saya tidak masuk kerja selama kurang lebih dua hari. Menunggu hingga benar-benar bisa beraktifitas kembali. Selama di rumah sakit dirawat dan ditangani luka-lukanya ternyata tidak perlu opname, hanya luka luar saja lantas diberi obat.

Meski demikian saya sebagai suami menghendaki pelayanan yang terbaik, saya minta untuk dilakukan cek lab terhadap istri saya. Cek lab sudah dilakukan hasilnya diambil esok harinya. Hari itu juga sudah diperbolehkan pulang dengan membawa beberapa obat yang harus dikonsumsi selama beberapa hari.

Keesokan harinya saya dan istri kembali lagi ke rumah sakit untuk mengambil hasil cek lab yang sudah dilakukan tempo hari. Saya menuju ruangan khusus bagian laboratorium, diberikan sebuah amplop oleh petugas rumah sakit. Amplop sengaja saya tidak membukanya, langsung saya serahkan ke istri untuk membukanya langsung. 

Tidak lama kemudian amplop langsung dibuka oleh istri saya, kami masih berada di ruang tunggu rumah sakit tersebut. Setelah dibuka, istri saya meneteskan air mata. Melihat istri menangis saya khawatir. Jangan-jangan ada sesuatu yang serius dari hasil lab tadi. Saat itu juga sayapun langsung melihat lembaran hasil lab yang ada di dalam amplop tadi. 

Benar saja, setelah melihat hasil lab tersebut saya menjumpai ternyata istri saya dinyatakan positif hamil. Tidak karuan rasanya, sayapun ikut mrambang (berkaca-kaca) setelah melihat hasil lab itu. Kami berdua tidak henti-hentinya mengucap syukur saat itu. Berbagai kalimat thoyyibah keluar dari mulut kami berdua. Ini yang tadi saya maksud dengan anugerah. Seakan dari kejadian kecelakaan kemarin tiba-tiba saja istri saya merasa sembuh, mendapatkan energi baru.

Apa yang dapat saya dan istri petik dari kejadian ini adalah kemurahan Tuhan dan keajaiban yang luar biasa dari-Nya. Kebetulan kami sering mengikuti Maiyahan meskipun hanya melalui YouTube. Beberapa waktu yang lalu Simbah Nun memberikan hikmah mengenai Surat Al-Insyiroh.

Di beberapa tempat Maiyahan, Simbah Nun mengajak kita meyakini kebenaran pernyataan Allah dalam surat Al-Insyiroh ini: fainna ma’al usri yusro, inna ma’al usri yusro. Bahwa Inna ma’al usri yusro, yang dalam keyakinan beliau bukanlah berarti “sesudah kesulitan akan ada kemudahan” sebagaimana pemahaman selama ini, melainkan “bersamaan dengan kesulitan itu Allah memberikan kemudahan”.

Jika diartikan sesudah kesulitan ada kemudahan, maka berbunyi ba’da. Padahal suratnya berbunyi ma’a, yang artinya bersamaan, bareng. Kalo diartikan sesudah, bunyinya menjadi inna ba’dal ‘usri yusra, fainna ba’dal ‘usri yusro.

Terimakasih Simbah sudah memberikan penjelasan yang mudah dimengerti. Dari kejadian tersebut ketika istri mengalami kecelakaan ternyata ada pesan dibalik itu. Ada kabar menggembirakan, ada sedih lalu Allah kasih senang, ada kabar buruk sekaligus diberi kabar baik. Sekali lagi ini yang saya maksud dengan Musibah atau Anugerah. “Bersamaan dengan datangnya musibah itu Allah memberikan anugerah”.

Dikatakan musibah, karena istri baru saja mengalami kecelakaan. Dikatakan anugerah karena diberi amanah yakni diketahui istri sedang hamil. 

Alhamdulillah hingga saat ini kandungan baik-baik saja. Sekarang sudah jalan dua bulan. Tiap kontrol ke dokter kandungan ternyata tidak ada masalah. Allah melindungi, meskipun istri baru saja kecelakaan. Hingga kini, luka-luka dan lebam sudah sembuh total. Yang tadinya susah berjalan kini sudah kembali seperti semula.

Kami berdua mengikuti dan menyerap banyak ilmu dari Simbah. Pertama kali Cak Nun dan KK diundang ke Blora, waktu itu istri masih Taman Kanak-kanak pernah ‘perform’ untuk tilawah bersama kawan-kawan TK-nya sebelum acara Maiyahan dimulai. Sekarang kami masih terus menyerap ilmu dari Simbah.

Bahkan, ketika beberapa bulan lalu Cak Nun dan KK Maiyahan di Blora sebenarnya kami ingin pulang ke Blora untuk ikut Maiyahan, namun kami tidak bisa ikut. Akhirnya, nonton via YouTube.
Istri dan saya menginginkan jika kelak anak kami lahir, Simbah berkenan mendo’akan dengan memberikan nama bagi anak kami. Mudah-mudahan Allah mengijinkan ini.

Saya sendiri sudah membaca Daur dari 1 – 309 banyak sekali ilmu yang tersirat di dalamnya. Ada sekitar 33 buah buku yang sudah saya miliki dan saya baca dari seorang Emha Ainun Nadjib. Saya men-tadabburi semuanya, dari tulisan-tulisan Simbah yang ada di Daur maupun buku-buku beliau.
Sehat terus Simbah. Semoga Allah senantiansa memberikan kekuatan untuk Simbah, sehingga kami tetap bisa Maiyahan dan menyerap ilmu dari Allah melalui Simbah.

Semarang, 6 Januari 2016

    Choose :
  • OR
  • To comment
No comments:
Write comments

Silahkan tinggalkan komentar Anda di sini