October 26, 2016

Lulusan KTP, Mau jadi Apa?

 




Beberapa waktu yang lalu saya mendapat undangan dari kampus, tepatnya dari jurusan Kurikulum dan TeknologiPendidikan (KTP) FIP UNNES di mana saya sempat ngawruh ngelmu beberapa tahun di sana. Undangan tersebut dalam rangka visitasi akreditasi jurusan. Tentunya ini kabar baik bagi semua ‘pengguna’ atau yang sedang ‘menggunakan’ jurusan ini untuk mencari ilmu.


Pada saat itu yang diundang bukan hanya saya saja tentunya (memangnya saya ini siapa?). Pihak jurusan mengundang beberapa alumni. Pertemuan itu cukup membuat saya gembira, pasalnya saya dapat bertemu dengan para dosen yang dulu nguliahi saya. Tidak hanya dosen namun juga dengan para alumni tadi. Alumni yang hadirpun dari berbagai angkatan, bahkan lintas generasi. Obrolan yang cukup hangat, jadi semacam reuni kecil-kecilan kalau boleh dibilang.

Pihak jurusan bukan tanpa alasan mengundang para alumni tadi. Jurusan KTP (begitu menyebutnya jaman kuliah dulu) sedang punya gawe. Seperti tadi sudah saya katakan di awal, jurusan sedang melakukan visitasi akreditasi jurusan. Tidak main-main, asesor yang bertugas mem-visitasi berasal dari dua perguruan tinggi terkenal, yakni kalau tidak salah dari kampus eks-IKIP Yogya yang kini UNY dan kampus satunya dari Makasar. 

Tidak heran apabila jurusan memiliki agenda yang cukup padat untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Setahu saya apabila suatu lembaga baik sekolah, kampus atau lembaga sejenisnya yang akan diakreditasi memang banyak hal yang harus disiapkan.

Banyak sekali borang yang harus diisi dan dilengkapi. Saya tidak bisa membayangkan kerja keras para punggawa di jurusan KTP untuk menyiapkan itu semua, pasti banyak ‘cerita’ dibalik persiapan visitasi akreditas ini. Misalkan saja dari kualitas pendidik/pengajarnya, sarana-prasaranya, seberapa banyak ‘kekayaan’ karya ilmiahnya, bagaimana input mahasiswanya hingga pada lulusannya mau jadi apa setelah kuliah di jurusan tersebut. Para alumni tadi dihadirkan untuk dimintai semacam kesaksian atau bahasa kekiniannya adalah testimoni lisan. Satu per satu alumnipun diinterogasi (baca: diwawancarai) oleh para asesor tadi.

Kekhawatiran Mahasiswa KTP

Dari tahun ke tahun, mahasiswa jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan sering merasa gundah gulana. Antara bingung, belum tahu mau jadi apa hingga tidak tahu mau berbuat apa selama kuliah di jurusan ini.

Saat berbincang dengan para alumni dan dosen-dosen, ada pesan yang cukup membuat saya menggelitik. Salah seorang dosen mengatakan, “Jangan nyumpahi diri sendiri! Karena itu bisa saja jadi kenyataan. Jangan pernah bilang kuliah di jurusan KTP madesu. Ucapan bagian dari doa, bahkan bisa saja memang itu sebuah doa.” Begitu kata salah seorang dosen yang pernah menjadi Ketua Jurusan.

Hal ini mengingatkan saya waktu masih jadi ‘siswa’ di jurusan KTP. Banyak teman-teman seangkatan saya mengatakan hal yang sama yang tadi dianggap “nyumpahi diri sendiri” oleh salah seorang dosen tadi. Memang pada saat awal-awal masuk kuliah di jurusan ini, muncul begitu banyak pertanyaan dan juga semacam kekhawatiran. Pertanyaan itu bisa muncul sebagai bentuk kekhawatiran itu tersendiri atau mungkin saja kekhawatiran yang menumbuhkan pertanyaan.

Selama saya belajar di jurusan KTP hanya satu hal yang saya lakukan. Mencari ILMU. Yah, itu yang bisa saya lakoni selama menjadi bagian dari jurusan KTP. Tidak ada kemungkinan lain selain bersungguh-sungguh mencari ilmu. Pertanyaan dan kekhawatiran tadi bukan berarti tidak bergelayut di dalam benak saya, sudah barang tentu sayapun merasakan hal yang sama seperti teman yang lain. Teman-teman kuliah saya banyak mengeluhkan selama kuliah di jurusan KTP ini mau jadi apa, kerja di mana, lembaga mana yang mau menerima lulusan KTP? Barangkali itu pertanyaan yang sekaligus menjadi semacam kekhawatiran mahasiswa KTP. Tidak jelas mau jadi apa.

Sekarang, bagaimana apabila logikanya kita balik? Anda kuliah itu dalam rangka mencari ilmu atau dalam rangka mencari pekerjaan? Konsep kuliah kita luruskan terlebih dahulu. Bukankah kuliah itu bukan soal nanti mau menjadi apa atau nanti mau bekerja di mana? Kampus merupakan salah satu tempat yang memiliki sumber ilmu. Sarana untuk belajar, menempa diri dan membangun karakter. Kenapa kita tidak bersungguh-sungguh untuk belajar dan mencari ilmu tenanan?

Jika Anda memang kuliah itu semata-mata untuk mencari pekerjaan, supaya memiliki peluang yang lebih baik mengapa tidak saja langsung mencari pekerjaan? Buat apa repot-repot harus kuliah mengeluarkan biaya banyak? Apakah untuk mencari pekerjaan harus diawali dengan menempuh kuliah supaya diakui bahwa kita ini cukup berpendidikan? Atau Anda kuliah itu murni keinginan sendiri atau hanya untuk menyenangkan orang tua semata? 

Maksud saya adalah jika memang diniatkan kuliah fokuskan saja untuk bersungguh-sungguh mencari ilmu dan menempa diri. Namun apabila kuliah itu semata-mata supaya untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, urungkan saja niatmu untuk kuliah. Segera angkat kaki dari kampus, pamitan dengan Bapak-Ibu kos lalu berkelana carilah kerjaan.

Untuk menjawab pertanyaan dan kekhawatiran yang sering muncul dalam benak adik-adik mahasiswa jurusan KTP, ijinkan saya untuk menyebutkan beberapa lulusan KTP yang sudah jadi ‘orang’ di luar sana.

Dari alumni yang kemarin diundang, ada:
  1. Pak Abu Khaer yang kini menjadi Kepala BPMTP Surabaya (Balai Pengembangan Media Televisi Pendidikan) – Pustekkom – Kemendikbud. Beliau menyatakan bahwa selama kuliah di KTP banyak sekali ilmu yang bermanfaat, sehingga beliau bisa menjadi sekarang ini tidak lepas dari kompetensi lulusan KTP yang memang unik daripada jurusan lainnya.
  2. Pak Ru***to menjadi TNI yang sekarang dinas di Jakarta. Nama sengaja saya tuliskan seperti itu karena saat ini beliau menjadi anggota BIN atau FBI-nya Indonesia. Jadi, untuk menjaga kerahasiaan bersama kita sama-sama menjaga nama beliau. Hehehe… Beliau belum lama baru kembali dari Moskow, Rusia. Beliau dipercaya untuk menjadi perancang diklat atau semacam kurikulum untuk para calon agen-agen baru yang akan menjadi BIN. Bahkan beliau menceritakan hampir setiap tahun, lembaga TNI pasti membuka lowongan dari lulusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan. Secara khusus untuk jurusan KTP disebut jumlah personil yang dibutuhkan.
  3. Mba Sri Wahyu Astuti, yang bekerja di LPMP Jawa Tengah. Sudah tahu kan lembaga ini? Menurut saya lembaga ini adalah lembaganya para calon guru. Hampir semua guru pasti pernah ‘dikarantina’ di sini.
  4. Mas Candra Ariwibowo yang bekerja di Dinas Pendidikan Kendal. Kalian sudah pasti tahu kira-kira jadi apa, apabila bekerja di lembaga ini.
  5. Mas Yudi Kristanto menjadi guru Multimedia di SMK N 8 Semarang. Beliau dituntut untuk selalu update akan hal-hal baru di dunia teknologi.
  6. Mba Neni Kusuma Nugraheni  yang bekerja di SMP N 2 Karanganyar.
  7. Ada pula yang dari BPMPK Semarang (Balai Pengembangan Multimedia Pendidikan dan Kebudayaan) – Pustekkom – Kemendikbud. Kebetulan ditempatkan pada seksi Perancangan Model (dulu bernama seksi Pengkajian dan Perancangan). Orang ini pernah ditugaskan untuk membuat semacam diklat pelatihan bagi guru-guru SD,SMP,SMA/SMK tentunya di bidang TIK. Kebetulan pernah pula keliling Indonesia dari Aceh hingga Papua untuk melihat kondisi dan keadaan di daerah khususnya bidang pendidikan bekerjasama dengan Dinas Provinsi maupun Balai Tekkom. Baik melakukan pelatihan maupun uji coba model media yang dikembangkan oleh BPMPK.
Masih banyak sekali lulusan jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan yang kini sudah menjadi ‘orang’ di luaran sana. Yang mungkin saja pihak jurusan belum mendeteksi mereka jadi apa sekarang, atau bisa saja barangkali lulusan tersebut sengaja membenamkan diri supaya tidak diketahui oleh jurusan (padahal mereka sudah jadi orang sukses). Meskipun saya sendiri masih belum paham-paham amat apa yang dimaksud dengan ‘sudah menjadi orang’ atau ‘jadi orang sukses’. Tidak tahu paramaternya apa untuk menjadi kriteria seperti itu. Tolak ukurnya bagaimana saya masih belum mengerti.

Paham 5-K Mahasiswa

Saya sendiri dari angkatan tahun 2005 dan lulus tahun 2009. Bergabung di BPMPK Semarang pada tahun 2012. Anda bisa membayangkan kira-kira apa yang saya lakukan selama 2 tahun sebelum ‘mendapatkan’ pekerjaan yang sekarang. Jangan pernah malu untuk berbuat sesuatu, asalkan itu baik. Lakukan saja. Buka lapak jualan nasi kucing, mi rebus, rental PS maupun buka warnet tidak jadi soal. Asalkan tidak merugikan orang lain.

Memang kelebihan masyarakat kita adalah apabila sudah menempuh pendidikan tinggi dan masih saja belum mendapatkan pekerjaan, sudah pasti kita mendapatkan ‘pujian’ dari orang-orang di sekitar kita (setelah mbalik ndeso, misalkan).

Kebetulan alumni yang saya sebutkan di atas kebanyakan bergabung dengan isntansi pada level pemerintahan, baik yang sudah PNS maupun Non-PNS. Tentunya banyak alumni yang menempuh karirnya sendiri tanpa harus mengandalkan pemerintah. Entah berwiraswasta maupun menjadi sesuatu yang tidak sama dengan kebanyakan orang.

Dari keseluruhan yang saya sampaikan di atas, bisa saya simpulkan bahwa saya BANGGA kuliah di Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan – FIP UNNES. Tidak pernah ada kata menyesal ambil jurusan ini. Banyak sekali ilmu yang bermanfaat dan relevan yang saya peroleh. Yang harus kita lakukan adalah bersungguh-sungguh. Perbanyak mencari ilmu di luar bangku kuliah. Jangan hanya menganut paham 5-K (kampus, kantin, kos, kongkow, kampung).

Bolehlah barangkali Anda menikmati masa muda, berkumpul dan bercengkerama dengan teman-teman. Menikmati hidup di era modern. Bergabung dengan komunitas penikmat cat rice dan kopi lelet sinambi udud. Bahkan mungkin mencari gebetan, supaya tidak dibilang JoNes (Anda pasti tahu akronim yang saya maksud). Tapi ingat! Anda memiliki tanggungjawab dan amanah yang harus Anda kerjakan dengan sebaik-baiknya. Tanggung jawab tidak hanya kepada orang tua Anda namun juga dengan Tuhan.

Tulisan ini dibuat semata-mata untuk memberikan motivasi dan semangat untuk para mahasiswa jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan. Sekarang bukan saatnya mempertanyakan kita akan jadi apa nanti. Namun, jalani saja apa yang saat ini sedang berlangsung. Mau jadi papaun nanti, hal terpenting adalah kerjakan semuanya itu dengan sungguh-sungguh dan setia.

Salam Teknologi Pendidikan.

Bentar Saputro (Alumni KTP Angkatan 2005)
Semarang, 26 Oktober 2016

    Choose :
  • OR
  • To comment
No comments:
Write comments

Silahkan tinggalkan komentar Anda di sini