June 16, 2016

Gelar Yang Tak Tersematkan

 



Seorang teman bertanya kepada saya. “Serius ini Pak gelarnya ga dicantumkan?” Ini berawal dari sebuah undangan yang beberapa waktu lalu saya bagikan. Memang kebetulan ada nama lengkap saya di sana.

Memang untuk keperluan tertentu, penulisan gelar diperlukan. Tidak menutup kemungkinan bagi mereka yang memiliki banyak gelar akan dengan sangat mudah menuliskannya secara lengkap. Bahkan apabila gelar tersebut kelupaan ditulis dalam lembar tertentu, dengan susah payah dan usaha sekeras mungkin akan dilakukan penulisan ulang demi terteranya gelar di dalamnya.
Yang menjadi pertanyaan adalah apakah gelar itu benar-benar dibutuhkan? Benarkah gelar tersebut sengaja dijadikan alat untuk mengetahui identitas seseorang? Mungkinkah gelar berguna untuk membangun hubungan komunikasi sosial? Ataukah hanya untuk menunjukkan status sosial tertentu? Mungkin saja hanya untuk menunjukkan stratifikasi sosial semata?
Supaya terlihat bahwa ia merupakan orang yang berbeda dari kebayakan orang di sekelilingnya? Agar setiap orang menghormati yang memiliki gelar tersebut? Atau memang gelar tersebut di-show-kan supaya mendapatkan perhatian lebih dari masyarakat?
Untuk beberapa hal, gelar memang diperlukan. Misalkan saja, gelar akademik yang memang secara administratif harus dipenuhi untuk prosedur tertentu. Pun itu tidak berlaku ketika yang bersangkutan (yang memiliki gelar) sudah tidak berada pada tempat yang semestinya menggunakan gelar. Apakah seseorang yang memiliki gelar PhD., S.Pd., Prof. lantas akan menyandangnya setiap saat?
Sedangkan ia hidup tidak hanya berlaku sebagai satu karakter saja. Bagaimana ketika ia adalah seorang ayah yang baru saja memiliki seorang anak kecil? Ketika anaknya tiba-tiba merengek (maaf) minta pipis atau bahkan buang air besar, lantas minta untuk dibersihkan setelah melakukan aktifitas tadi. Karena memang untuk ukuran anak kecil yang memang belum bisa mengerahkan segala akal dan pikirannya (nalar), jadi hanya bisa merengek pada ayahnya untuk kemudian minta membersihkan alat yang digunakan untuk pembuangan tadi. Sudah barang tentu, sebagai ayah akan membersihkan (baca: nyeboki) anaknya tersebut tanpa berpikir apakah dia memiliki gelar atau tidak. Mungkinkah hanya sekedar ingin melakukan tugas seorang ayah terhadap anaknya, lantas harus berpikir ulang terhadap gelar yang disandangnya tadi?
Ada apa dengan gelar? Mengapa harus ada gelar? Apakah gelar harus ada?
Sebagian masyarakat kita memang masih banyak sekali yang fanatik terhadap hal yang satu ini. Bahkan hanya untuk mendapatkan gelar, mereka melakukan banyak upaya. Mati-matian untuk memperolehnya, entah dengan cara yang wajar maupun yang isntant. Baik untuk kepentingan mencari ilmu maupun hanya sebatas mengejar karir semata.
Bukankah semakin orang tersebut memiliki gelar, semakin ia rendah hati dan sumeleh terhadap sesama dan terhadap apapun. Baik kepada orang yang sama-sama memiliki gelar apalagi terhadap mereka yang tidak memiliki gelar.
Jadi, kenapa saya memilih untuk tidak mencantumkan gelar? Apakah gelar tersebut benar-benar ada? Sedangkan kita dilahirkan ke dunia ini tidak membawa apa-apa sama sekali, bahkan kita ini (maaf) telanjang bulat saat lahir. Jangankan sebuah gelar, nama sajapun kita tidak punya. Nama itu dipersiapkan hanya untuk memudahkan kita memanggil satu sama lain. Nama itu sesungguhnya tidak ada, ia diada-adakan. Begitu pula dengan gelar.
Menurut hemat saya gelar hanya diperlukan pada tempat yang tepat. Bukan dijadikan alat untuk membanggakan diri, menonjol-nonjolkan diri apalagi dijadikan alat kesombongan. Bukan sama sekali.
Apapun itu gelarnya.

Sumber Gambar : http://www.nakhodaku.com/2012/07/daftar-singkatan-gelar-akademik-di-indonesia.html 

    Choose :
  • OR
  • To comment
1 comment:
Write comments
  1. Thanks for your post really helped me awaited other stuff ..



    ST3 Telkom


    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan komentar Anda di sini