June 20, 2016

Berganti Peran

 


Kebanyakan kita manusia sangat gemar sekali menghabiskan waktu senggangnya dengan bermain atau hanya sekedar menikmati kebersamaan dengan keluarga, kawan, atau bahkan mungkin teman dekat. Ada banyak destinasi yang menjadi sasaran untuk menghabiskan waktu senggang. Ada yang berdiam diri di rumah sembari bersih-bersih ruangan hingga pada membersihkan halaman rumah. Ada pula yang sengaja keluar rumah untuk menikmati suasana baru, misalkan saja ke tempat-tempat wisata, café, taman kota, berkunjung ke sanak family, mall-mall (pusat perbelanjaan), swalayan, supermarket, bioskop, dan lain sebagainya. Sementara yang lainnya ada yang dengan gembira dan jingkrak-jingkrak luar biasa hanya cukup berkunjung ke tempat yang bersentuhan dengan alam, misalkan saja ‘muncak’ (naik gunung), ke pematang sawah, ladang, mencari ikan di sungai sekaligus berenang di kolam alami bentukan sungai (baca: kedung). Banyak sekali tempat-tempat yang bisa dikunjungi untuk mengisi waktu luang kita. Ada yang bepergian berdasarkan keinginan, hasrat, perasaan, dan gengsi belaka. Namun, ada juga yang bepergian yang diniatkan pada kebermanfaatan dalam mengisi waktu senggang yang memang sudah direncanakan jauh sebelum waktu senggang tersebut datang.
Bagi mereka yang berada di perkotaan, memang cukup banyak pilihan tempat-tempat yang dapat dikunjungi saat liburan tiba. Dari mulai yang sederhana hingga pada yang mewah sekalipun. Tidak bisa dipungkiri bahwa kebiasaan kita dalam mengisi waktu luang memiliki sangat banyak kemungkinan untuk melakukan hal-hal yang berbeda sama sekali.
Ada hal yang menarik ketika saya bepergian ke salah satu tempat pusat perbelanjaan atau bahasa modern-nya mall. Maksud dan tujuan saya datang ke sana bukan untuk mejeng atau sekedar jeng-jeng semata. Bagaimana mungkin manusia macam saya ini punya peluang untuk melakukan hal-hal yang sifatnya senang-senang layaknya manusia perkotaan. Lah wong saya ini dibesarkan dari lingkungan yang sama sekali jauh dari yang namanya kota. Ke pasar pun hampir tidak pernah, karena memang lokasinya jauh dari tempat tinggal saya. Jelas saja jauh, karena saya ini tinggalnya di desa, bahkan nggunung (semacam dataran tinggi).
Kebetulan saja setelah beranjak besar biarpun belum bisa dikatakan dewasa, saya berkesempatan untuk mengenal dan bahkan tinggal di daerah kota. Sebut saja ibu kota Provinsi Jawa Tengah. Siapa yang tak mengenal Kota ini. Nah, kembali ke omong-omong soal mall tadi. Niat saya berkunjung ke mall sebenarnya hanya ingin nonton layar lebar yang sebenarnya ini untuk pertama kalinya. Itupun saya diajak kawan saya yang kebetulan sudah punya pengalaman bagaimana masuk ke tempat seperti itu. Kebanyakan orang menyebutnya sih bioskop, namun bagi saya itu hanya sebuah ruangan besar yang di dalamnya menghadirkan suguhan hiburan tertentu yang diisi oleh banyak kursi dan kursi itu dikomersilkan.
Sebelum memasuki ruangan/bioskop saya harus melalui beberapa tahapan, tentunya membeli sebuah tiket supaya saya bisa ndeprok di dalam gedung bioskop. Karena film yang akan saya tonton itu premiere, hal yang saya alami adalah berjejal-jejal dengan calon penonton lainnya untuk antre beli tiket. Cukup lama untuk mengantre sebuah kertas kecil yang bertuliskan judul film tersebut.
Setelah tiket sudah ditangan ternyata saya harus menunggu jam tayang film tersebut, karena memang film ini banyak digemari penonton. Dengan sangat ‘piye meneh’ saya harus menunggu jam tayang berikutnya. Terdamparlah saya di ruang tunggu bioskop tersebut untuk menunggu film.
Disela-sela waktu menunggu tibanya jam tayang film yang ingin saya tonton, saya duduk di ‘emperan bioskop’. Terlihatlah seorang petugas kebersihan yang ada di area gedung bioskop tersebut. Sejatinya ruangan tersebut sudah cukup bersih. Hanya saja beberapa sampah memang terlihat, namun tidak begitu kotor.
Petugas kebersihan itu masih terbilang cukup muda, dia melakukan pekerjaannya dengan sungguh-sungguh dan penuh semangat. Jauh dari yang namanya malu atau gengsi dengan jenis pekerjaan yang disandangnya sekarang. Tidak seperti kebanyakan anak-anak muda pada umumnya, dia begitu optimis dan mantap atas apa yang dia kerjakan. Anda bisa melihat lagak-lagu anak muda jaman sekarang, mereka sudah sangat modern dan hanyut pada manisnya peradaban abad 21.
Saat itu saya hanya berpikir bahwa betapa mulianya pekerjaan anak muda tersebut. Ia bekerja bukan hanya semata untuk mencari uang, namun lebih dari itu. Bisa saja ia bekerja untuk keluarganya, orang tuanya yang sedang sakit, untuk membiayai sekolahnya sendiri atau adiknya, bahkan mungkin saja ia merupakan ujung tombak keluarga. Tidak ada yang tahu. Namun yang jelas, ia melakukannya dengan keseluruhan niat dan hati yang ikhlas. Mungkin sesekali ia terbesit untuk bergabung  dan nelusup di gedung bioskop sekedar untuk menghilang penat. Tapi hal itu ia urungkan demi tugas dan kewajiban yang mesti ia penuhi.
Tidak banyak anak muda macam ini. Seandainyapun ia diberi pilihan pada alternatif kesempatan yang lain, mungkin saja ia tolak. Ia berkeyakinan lebih baik seperti ini daripada melakukan sesuatu hal melalui jalan “pintas”.
Apabila di dunia ini, ada yang namanya pergantian peran antar manusia. Ia menjalani kehidupan saya, sementara saya menjalani kehidupannya. Mungkin saja saya sendiri belum tentu sanggup melakukannya.

Semarang, 2015-2016


    Choose :
  • OR
  • To comment
4 comments:
Write comments
  1. Thanks for your post really helped me awaited other stuff ..



    ST3 Telkom


    ReplyDelete
  2. Thanks you for share and interesting ..

    ST3 Telkom

    ReplyDelete
  3. menarik sekali,, terimakasih atas informasinya.. sangat bermanfaat dan menambah wawasan tentunya.. thanks for sharing . nice post


    ST3 Telkom

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan komentar Anda di sini