November 23, 2008

Eros Djarot: "Lastri" Bukan Film Komunis

From: http://www.liputan6.com
Rencana pembuatan film Lastri ternyata cukup menyita perhatian. Ini terkait adanya tudingan film garapan sutradara Eros Djarot itu menyebarkan ajaran komunis. Ketegangan pun menyertai jalannya syuting di bekas pabrik gula Colomadu, Karanganyar, Jawa Tengah, pekan lalu. Front Pembela Islam Surakarta dan sejumlah ormas Islam memprotesnya.

Beruntung, kericuhan bisa dihindari setelah Eros menemui warga serta sejumlah aktivis yang sejak awal bersiap membubarkan jalannya syuting. Dialog antara Eros Djarot dan warga diwarnai perdebatan panjang terkait persepsi yang disampaikan soal tudingan penyebaran ajaran komunisme [baca: Syuting Film "Lastri" Diprotes].

Ketua Dewan Tanfidz FPI Surakarta, Choirul Rus Suparjo, mengatakan, mereka telah berupaya menulis surat ke Presiden Susilo Bambang Yudhoyono demi pelarangan film ini. "Kami juga sudah membaca sinopsisnya. Paham bagaimana perjalanan film itu," kata Choirul via telepon dalam Liputan 6 Pagi Akhir Pekan, Ahad (23/11).

Di sisi lain, dukungan terhadap film Lastri juga bermunculan. Para seniman se-Solo Raya yang tergabung dalam Aliansi Kebebasan Berekspresi Surakarta mendatangi Markas Kepolisian Wilayah Solo. Menurut mereka, langkah kepolisian melarang syuting film itu tak beralasan dan melanggar hak asasi manusia. Polwil Solo menyatakan masih berkoordinasi dengan Markas Besar Polri terkait kelanjutan syuting film Lastri [baca: Syuting Film "Lastri" Diprotes].

Eros Djarot sang sutradara pun angkat bicara. Menurut Eros, film Lastri memang mengambil latar belakang 1965-an, namun sama sekali tak mengandung ajaran komunisme. "Saya orang yang berkewajiban menjaga Indonesia tidak lagi membuka peluang tumbuhnya partai terlarang. Tidak ada niatan membangkitkan komunisme," kata Eros.

Dia menyayangkan tindakan FPI yang salah satunya didasari setelah membaca sinopsis film Lastri. "Kalau melalui sinopsis yang saya buat dan orang bisa menyimpulkan seperti itu, alangkah naifnya," ucap Eros. "Berilah kami kepercayaan apa yang akan saya lakukan jelas sebagai warga negara yang memikirkan bangsa. Bangsa ini tidak cocok dengan paham marxisisme dan leninisme."

Kendati diprotes, Marcella Zalianty selaku produser mengaku akan melanjutkan film ini. "Insya Allah kami bisa menunjukkan yang ditakutkan selama ini tak terjadi," kata Marcella. "Tidak perlu direspon berlebihan karena ini roman percintaan yang berlatar belakang pada masa lampau. Bukan based on true story tapi inspired by."(YNI)

    Choose :
  • OR
  • To comment
No comments:
Write comments

Silahkan tinggalkan komentar Anda di sini